Isnin, 11 April 2011

37212233-Laura-Chapman-Presentation

Jumaat, 8 April 2011

WAJ3107

Selasa, 15 Februari 2011


PERBANDINGAN TATABAHASA BAHASA MELAYU -

Ahad, 28 November 2010

Penuntut Ilmu Tidak Boleh Futur, Tidak Boleh Putus Asa dan Waspada Terhadap Bosan

Oleh : Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Seorang penuntut ilmu tidak boleh futur dalam usahanya untuk memperoleh dan mengamalkan ilmu. Futur yaitu rasa malas, enggan, dan lamban dimana sebelumnya ia rajin, bersungguh-sungguh, dan penuh semangat.Futur adalah satu penyakit yang sering menyerang sebagian ahli ibadah, para da’i, dan penuntut ilmu. Sehingga seseorang menjadi lemah dan malas, bahkan terkadang berhenti sama sekali dari melakukan aktivitas kebaikan.

Orang yang terkena penyakit futur ini berada pada tiga golongan, yaitu:
1). Golongan yang berhenti sama sekali dari aktivitasnya dengan sebab futur, dan golongan ini banyak sekali.
2). Golongan yang terus dalam kemalasan dan patah semangat, namun tidak sampai berhenti sama sekali dari aktivitasnya, dan golongan ini lebih banyak lagi.
3). Golongan yang kembali pada keadaan semula, dan golongan ini sangat sedikit.


[1] Futur memiliki banyak dan bermacam-macam sebab. Apabila seorang muslim selamat dari sebagiannya, maka sedikit sekali kemungkinan selamat dari yang lainnya. Sebab-sebab ini sebagiannya ada yang bersifat umum dan ada yang bersifat khusus. Di antara sebab-sebab itu adalah,
1). Hilangnya keikhlasan.
2). Lemahnya ilmu syar’i.
3). Ketergantungan hati kepada dunia dan melupakan akhirat.
4). Fitnah (cobaan) berupa isteri dan anak.
5). Hidup di tengah masyarakat yang rusak.
6). Berteman dengan orang-orang yang memiliki keinginan yang lemah dan cita-cita duniawi.
7). Melakukan dosa dan maksiyat serta memakan yang haram.
8). Tidak mempunyai tujuan yang jelas (baik dalam menuntut ilmu maupun berdakwah).
9). Lemahnya iman.
10). Menyendiri (tidak mau berjama’ah).
11). Lemahnya pendidikan.

[2] Futur adalah penyakit yang sangat ganas, namun tidaklah Allah menurunkan penyakit melainkan Dia pun menurunkan obatnya. Akan mengetahuinya orang-orang yang mau mengetahuinya, dan tidak akan mengetahuinya orang-orang yang enggan mengetahuinya. Di antara obat penyakit futur adalah.
1). Memperbaharui keimanan. Yaitu dengan mentauhidkan Allah dan memohon kepada-Nya agar ditambah keimanan, serta memperbanyak ibadah, menjaga shalat wajib yang lima waktu dengan berjama’ah, mengerjakan shalat-shalat sunnah rawatib, melakukan shalat Tahajjud dan Witir. Begitu juga dengan bersedekah, silaturahmi, birrul walidain, dan selainnya dari amal-amal ketaatan.
2). Merasa selalu diawasi Allah Ta’ala dan banyak berdzikir kepada-Nya.
3). Ikhlas dan takwa.
4). Mensucikan hati (dari kotoran syirik, bid’ah dan maksiyat).
5). Menuntut ilmu, tekun menghadiri pelajaran, majelis taklim, muhadharah ilmiyyah, dan daurah-daurah syar’iyyah.
6). Mengatur waktu dan mengintrospeksi diri.
7). Mencari teman yang baik (shalih).
8). Memperbanyak mengingat kematian dan takut terhadap suul khatimah (akhir kehidupan yang jelek).
9). Sabar dan belajar untuk sabar.
10). Berdo’a dan memohon pertologan Allah.


[3]
PENUNTUT ILMU TIDAK BOLEH PUTUS ASA DALAM MENUNTUT ILMU DAN WASPADA TERHADAP BOSAN

Sebab, bosan adalah penyakit yang mematikan, membunuh cita-cita seseorang sebesar sifat bosan yang ada pada dirinya. Setiap kali orang itu menyerah terhadap kebosanan, maka ilmunya akan semakin berkurang. Terkadang sebagian kita berkata dengan tingkah lakunya, bahkan dengan lisannya, “Saya telah pergi ke banyak majelis ilmu, namun saya tidak bisa mengambil manfaat kecuali sedikit.

”Ingatlah wahai saudaraku, kehadiran Anda dalam majelis ilmu cukup membuat Anda mendapatkan pahala. Bagaimana jika Anda mengumpulkan antara pahala dan manfaat? Oleh karena itu, janganlah putus asa. Ketahuilah, ada beberapa orang yang jika saya ceritakan kisah mereka, maka Anda akan terheran-heran. Di antaranya, pengarang kitab Dzail Thabaqaat al-Hanabilah. Ketika menulis biografi, ia menyebutkan banyak cerita unik beberapa orang ketika mereka menuntut ilmu.

‘Abdurrahman bin an-Nafis -salah seorang ulama madzhab Hanbali- dulunya adalah seorang penyanyi. Ia mempunyai suara yang bagus, lalu ia bertaubat dari kemunkaran ini. Ia pun menuntut ilmu dan ia menghafal kitab al-Haraqi, salah satu kitab madzhab Hanbali yang terkenal. Lihatlah bagaimana keadaannya semula. Ketika ia jujur dalam taubatnya, apa yang ia dapatkan?

Demikian pula dengan ‘Abdullah bin Abil Hasan al-Jubba’i. Dahulunya ia seorang Nashrani. Kelurganya juga Nashrani bahkan ayahnya pendeta orang-orang Nashrani sangat mengagungkan mereka. Akhirnya ia masuk Islam, menghafal Al-Qur-an dan menuntut ilmu. Sebagian orang yang sempat melihatnya berkata, “Ia mempunyai pengaruh dan kemuliaan di kota Baghdad.

”Demikian juga dengan Nashiruddin Ahmad bin ‘Abdis Salam. Dahulu ia adalah seorang penyamun (perampok). Ia menceritakan tentang kisah taubatnya dirinya: Suatu hari ketika tengah menghadang orang yang lewat, ia duduk di bawah pohon kurma atau di bawah pagar kurma. Lalu melihat burung berpindah dari pohon kurma dengan teratur. Ia merasa heran lalu memanjat ke salah satu pohon kurma itu. Ia melihat ular yang sudah buta dan burung tersebut melemparkan makanan untuknya. Ia merasa heran dengan apa yang dilihat, lalu ia pun taubat dari dosanya. Kemudian ia menuntut ilmu dan banyak mendengar dari para ulama. Banyak juga dari mereka yang mendengar pelajarannya.

Inilah sosok-sosok yang dahulunya adalah seorang penyamun, penyanyi dan ada pula yang Nashrani. Walau demikian, mereka menjadi pemuka ulama, sosok mereka diacungi jempol dan amal mereka disebut-sebut setelah mereka meninggal.Jangan putus asa, berusahalah dengan sungguh-sungguh, mohonlah pertolongan kepada Allah dan jangan lemah. Walaupun Anda pada hari ini belum mendapatkan ilmu, maka curahkanlah terus usahamu di hari kedua, ketiga, keempat,.... setahun, dua tahun, dan seterusnya...

[4]
Seorang penuntut ilmu tidak boleh terburu-buru dalam meraih ilmu syar’i. Menuntut ilmu syar’i tidak bisa kilat atau dikursuskan dalam waktu singkat. Harus diingat, bahwa perjalanan dalam menuntut ilmu adalah panjang dan lama, oleh karena itu wajib sabar dan selalu memohon pertolongan kepada Allah agar tetap istiqamah dalam kebenaran.

[Disalin dari buku Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga “Panduan Menuntut Ilmu”, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, PO BOX 264 – Bogor 16001 Jawa Barat – Indonesia, Cetakan Pertama Rabi’uts Tsani 1428H/April 2007M]
__________
Foote Notes
[1]. Lihat al-Futur Mazhaahiruhu wa Asbaabuhu wal‘Ilaaj (hal. 22).
[2]. Lihat al-Futur Mazhaahiruhu wa Asbaabuhu wal‘Ilaaj (hal.43-71)
[3]. Ibid (hal. 88-119) dengan diringkas.
[4]. Ma’aalim fii Thariiq Thalabil ‘Ilmi (hal. 278-279

Selasa, 15 Jun 2010

SUBJEK SEMESTER 4 PGSR BM



BMM 3105
PENGAJARAN DAN PEMBELAJARAN BAHASA MELAYU BERBANTUKAN KOMPUTER
[Interaksi 90 jam / Kredit 3 (0 + 3) ]

BMM 3106
PEMULIHAN DAN PENGAYAAN PENGAJARAN BAHASA MELAYU SEKOLAH
(7 jam)


PSV 31O5 / RBT 3118
PENGAJIAN DAN PENGURUSAN KURIKULUM PENDIDIKAN SENI VISUAL KBSR /
PENGENALAN PENDIDIKAN KEMAHIRAN HIDUP SEKOLAH RENDAH


ELM 3101
PENDIDIKAN MORAL
(9 jam)

Sabtu, 20 Mac 2010

Hanya Jauhari Yang Mengenal Manikam

Kadang-kadang terfikir juga di hati ini, mengapa harus aku susah-susah belajar di umur setua ini? Apakah lagi yang kucari, gaji, pangkat, rumah, kereta, suami, anak-anak atau..., apa lagi...? Sedangkan semuanya ini sudahku punyai. Masa yang tinggalpun belum tentu menjanjikan kelebihan! Mengapa aku mesti susah-susah mengharungi masalah yangku cipta sendiri...? Mengapa mesti aku memikirkan asignment yang sentiasa pergi dan datang...? Itu belum masuk exam yang amat menyiksa jiwa dan raga...! Teringat bagaimana susahnya nak menyiapkan asignment sampai berjaga sepanjang malam... Bagaimana tensionnya perasaan memikirkan apa harus aku jawab esok hari, sedangkan apapun belumku ketahui... Mengapa harus aku hadapi semuanya ini...???

Mengenang kembali memori lalu, kadang-kadang terasa seperti dalam mimpi aku belajar lagi...! 12 tahun yang lalu, Suami mengisi borang PJJ untukku belajar, tapi aku bersyukur kerana tidak berjaya! Aku sememangnya tidak berminat untuk menyambung pelajaran kerana bagiku tugas belajar itu adalah tugas anak-anakku yang masih kecil. Aku tidak sanggup merampas hak mereka untuk menjadi hakku sedangkan keperluan mereka lebih wajibku sempurnakan kerana masa belajar mereka tidak dapat diulang kembali! Mengapa pula aku mesti rebut keperluan belajar mereka sedangkan waktu itu aku sepatutnya memberi perhatian dan bimbingan kepada mereka. Kusempurnakan tugas sebagai ibu dan pendidik sebaik mungkin, kubiarkan masa berlalu sehinggalah tiba satu ketika terasa ingin tenang daripada suasana hiruk pikuk sekolah, aku mohon KDP 14 minggu dan dapat!

Ya... betul, rasa selesa dan tenteram selama tiga bulan tapi... tetap juga kufikirkan anak-anak, aku bertekad tidak mahu menyambungnya! Suami akur dengan keputusanku sehinggalah keluar PGSR, sebenarnya umur cukup-cukup di sempadan, suami masih lagi memberi dorongan, saja cuba-cuba, nak "test market" layak atau tidak? He..eleh, dapat pulak! Nak tolak jadi serba salah, berapa ramai orang yang mohon, berapa ramai yang berebut untuk masuk belajar, mengapa mesti aku lepaskan peluang ini?

"Sabarlah..., tengoklah, dah setahun berlalu. Dah dua Semester, luluspun... Sedar-sedar, nanti sampai juga empat tahun...! Kalau tidak, masa itu berlalu begitu sahaja tanpa pengisian... Hadap je le... Lagipun, dapat segarkan balik ilmu dulu tu, disamping tak tertinggal jauh ke belakang...! Sekurang-kurangnya, dapat ilmu, ijazah dan DG41 yang mungkin diperlukan untuk seorang Guru Besar. Semasa tu, barulah sedar, ruginya tak belajar dulu..!" bisik Suami yang sentiasa mendorong dan memberi semangat kepadaku untuk meneruskan studi ini.

"Saya kesian kat anak-anak yang terkorban masa cuti sekolah dan keperluan mereka yang tidak dapat saya sempurnakan. Sepatutnya masa cutilah mereka berkumpul, bergembira, berhibur, melancong bersama..., tapi kini, masa itu terpaksa dikorbankan kerana ibu mereka belajar...!" Aku masih lagi tidak puas hati dengan jawapan suami.

"Ya betul, anak-anak perlu bercuti dan bergembira tapi perlukah sepanjang percutian? Perlukah mereka dihiburkan tanpa pengisian? Keseronokan berhibur hanyalah jika semuanya ada, sekali-sekala eloklah kita bawa mereka melancong tapi adakah setiap kali cuti sekolah kita perlu pergi? Lebih-lebih lagi semasa tahun peperiksaan penting mereka? Cuba fikir secara positif, kalau ibu mereka tidak belajar, sepanjang cuti dihabiskan melayan mereka. Biar mereka pergi tuisyen, tidaklah hanya mengadap tv dan internet aje...! Lagipun mereka sudah besar, bukannya perlu dibelai dan diusap lagi... Setakat makan minum mereka, abang boleh selesaikan...!"

Kata-kata suami inilah yang menguatkan semangatku mencari "permata" dan aku percaya "ilmu" adalah permata yang amat berharga dan tinggi nilainya kepada sesiapa yang berusaha mencarinya. Kilauan dan pancaran permata ilmu begitu hebat terserlah kepada pencarinya! “Hanya Jauhari Yang Mengenal Manikam”. Hasrat ini, sebenarnya sebagai mesej kepada anak-anak bangsa yang dididik terutama anak-anakku sendiri yang semuanya sedang mengejar ilmu. Kuharapkan daya juang yang dilalui sepanjang jalan menambah ilmu ini menjadi motivasi berharga kepada semua anak-anakku! Semoga ruang dan pengorbanan yang mereka berikan, tidak tersangkut atau tersekat di tengah jalan, dan aku pasti..., selagi suami memberi dorongan dan galakan selagi itulah semangatku tidak akan luntur, InyaAllah.

Terima kasih Suamiku...!

Khamis, 21 Januari 2010

Jenis-jenis Penilaian

Ujian pencapaian - ujian yang digubal oleh guru bagi mengukur sejauh mana sesuatu kumpulan murid atau seseorang murid berkenaan telah menguasai sesuatu topik yang telah dipelajar.

Ujian kecerdasan – disebut juga ujian mental - mengukur perbezaan di antara individu.

Ujian prestasi - memerlukan para pelajar membuat beberapa tugasan lain sebagai tambahan. Penekanan yang diberikan kepada kebolehan murid-murid melakukan sesuatu tugasan.

Ujian diagnostik - mengenal pasti masalah yang berlaku dalam pengajaran dan pembelajaran dan menentukan punca-punca yang menyebabkan masalah.

Ujian kecekapan - digunakan oleh seseorang guru untuk menguji kebolehan atau kecekapan seseorang murid melaksanakan sesuatu tugas atau aktiviti.

Ujian bakat - Ujian yang dikaitkan dengan aktiviti membuat telahan ke atas calon tentang bakat atau keistimewaan yang dimiliki.

Ujian personaliti - untuk mengenal pasti potensi diri, personaliti, tahap kemahiran, keupayaan , minat, nilai dan sikap seseorang murid.

Ujian rujukan Norma – keputusan ujian seseorang calon dibandingkan dengan dengan keputusan pelajar yang lain yang mengambil ujian yang sama sama ada dalam kelas yang sama atau berlainan.

Ujian rujukan kriteria – maklumat atau prestasi pelajar dibandingkan dengan kriteria yang telah ditetapkan tanpa melibatkan perbandingan antara pelajar.

Penilaian formatif – penilaian berterusan dalam proses pengajaran dan pembelajaran. Memberikan maklumat sejauhmana pembelajaran telah dikuasai.

Penilaian sumatif – dikaitkan penilaian pada akhir penggal atau semester. Memberikan nilai yang membezakan antara peringkat pencapaian pelajar.